Ketika Kanker Menyapa Mamaku

mamatehdetyMama tercinta

10 November, tentunya seluruh bangsa Indonesia tahu itu adalah hari Pahlawan, yang diperingati untuk mengenang jasa-jasa Pahlawan yang telah gugur di medan pertempuran. Hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tapi bagi aku hari Pahlawan mempunyai arti tersendiri, karena pada 10 November 2013 Mamaku tercinta meninggal dunia. Beliau wafat saat berjuang melawan penyakit kanker payudara.

Masih teringat jelas di benakku, bagaimana perjuangan Mama dengan sabar dan tabahnya menghadapi penyakit yang dideritanya. Penuh semangat beliau menjalani perawatan medis, aku yang selalu mendampinginya turut merasakan semangat Mama yang luar biasa.

Berawal dari tahun 1998 saat itu aku baru lulus SMA, Mama mengeluh setiap meraba payudara sebelah kanan, terasa ada benjolan sebesar kacang tanah, pikir Mama mungkin hanya kelenjar karena sering berpindah pindah. Saat itu aku belum mengerti, bagi ku itu hanya keluhan-keluhan Mama. Mama memang sering berkeluh kesah padaku tentang segala hal, dari persoalan kecil sampai kepersoalan yang besar. Anehnya setiap mengeluh, keluhannya itu selalu Mama jawab sendiri. Aku hanya dijadikan sebagai pendengar setianya saja.Sekitar tahun 2000 Mama mengeluh lagi padaku, saat itu aku baru menikah. Mama bilang bahwa benjolan di payudara kanannya sudah sebesar kelereng, seperti biasa Mama jawab sendiri. Mungkin ini hanya gumpalan asi yang tersisa mengeras, karena Mama merasa anak bungsunya hanya di susui selama 3 bulan saja, kata Mama mungkin efek stres, akhirnya asinya tidak keluar lagi. Mama malah memberi nasihat padaku, jika nanti punya anak harus memberikan asi selama 2 tahun, biar asinya tidak menggumpal keras seperti batu. Terkadang Mama ku ini masih percaya dengan ucapan orang tua dulu, mungkin ada juga sebagian yang benar atau bisa juga hanya sekedar mitos-mitos saja.

Tahun 2004 Mama berkunjung ketempatku di Kalimantan, untuk mendampingiku melahirkan putri kedua. Kali ini keluhannya sedikit berbeda, Mama bilang benjolannya sudah di periksa ke dokter diantar sahabat Mama, kata dokter benjolanMama tumor jinak, dan harus diambil karena sudah sebesar telur puyuh, kalo di biarkan nantinya akan bisa tumbuh lebih besar. Tapi Mama takut dioperasi, padahal dokter bilang operasi kecil tidak usah menginap, bisa langsung pulang. Banyak yang menjadi pertimbangan Mama untuk tidak mau di operasi, selain rasa takutnya menghadapi operasi, Mama juga merasa bahwa anak-anak Mama, adik-adikku mereka belum bisa mandiri, mungkin yang ada di bayangan Mama, dinginnya ruang operasi dan tajamnya pisau bedah merupakan hal yang mengerikan untuk dihadapi.

Ada tingkah Mama ku yang terkadang membuat aku tertawa geli, kalo sudah mengeluh sakit, karena sering panas dingin dan mudah kelelahan, suamiku selalu memberikan uang untuk berobat ke dokter. Tapi begitu uangnya di terima sakitnya bisa sembuh seketika. Padahal aku tahu, Mama ku memang sakit. Katanya sayang kalo punya uang di pake ke dokter, ke pasar kaget aja belanja pakaian obral buat cucu, sudah bisa sembuh sakitnya. Kalo soal milih memilih dan tawar menawar Mama ku memang ahlinya dan salah satu hobynya juga.

Mama memang paling takut ke dokter, jika tidak karena di paksa sahabatnya mungkin tidak akan mau untuk berobat. Menurut pandangan Mama katanya jika pergi ke dokter suka merembet penyakitnya. Padahal itu sebuah pemahaman yang keliru, dengan kita tahu penyakit yang kita derita, maka usaha penyembuhannya otomatis akan bisa cepat diatasi. Tapi aku salut dengan Mama, walau takut ke dokter, Mama tidak pernah mau untuk berobat ke alternatif, meskipun beberapa teman Mama selalu menyarankan untuk mencoba pengobatan alternatif. Mama tahu bahwa benjolan di payudaranya adalah penyakit medis, hanya belum siap mental untuk tidur di meja operasi. Untuk menjaga stamina Mama memang rutin tiap pagi dan malam minum madu.

Tahun 2007 Mama sering mengeluh sakit, merasa cepat lelah, mudah terkena demam, masuk angin. Dan Alhamdulliah aku di izinkan suami untuk pindah, tinggal bersama Mama. Senang bisa berkumpul kembali bersama Mama. Kata Mama kalo lagi kambuh yang di rasa payudara sebelah kanan celekit-celekit maksudnya mungkin nyeri, apa  lagi jika terkena angina, makanya jika di mobil ac tidak mau diarahkan langsung ke badan Mama.

Walau sudah sering sakit-sakit, tapi tetap saja tidak mau ke dokter, alasannya masih takut. setiap kambuh nyeri yang dialami,Mama lebih suka minum obat Neuoralgin, merasa lebih baik. Dan benjolan payudara Mama sudah membesar seperti telur ayam, tapi luar biasa Mama, rasa sakit kadang tak pernah di hiraukan, hidupnya di nikmati dan di syukuri dibawa senang.

Hingga Oktober tahun 2011, waktu saya di rawat di RS karena DBD, saat Mama sedang menunggui aku, adikku memaksanya untuk sekalian berobat, kebetulan ada dokter bedah yang sedang praktek. Mau tidak mau Mama menuruti karena paksaan dari anak-anaknya. segala pemeriksaan Mama jalani, dari mulai test lab, usg payudara, mamografi, hingga rotgen thorax. dari hasil pemeriksaan, Mama di vonis kanker payudara stadium 2A, dan benjolannya harus segera diangkat. Kami anak-anaknya merasa terpukul dan tentunya Mama tidak kami beritahu, kami hanya memberi tahu bahwa tumor di payudara Mama harus segera di operasi, di takutkan tumor jinak itu bisa menjadi ganas, karena kami sepakat tidak ingin membuat Mama panik dan takut menghadapi vonis penyakitnya.

Mama masih tetap tidak mau di operasi, masih merasa takut dan tetap santai saja menjalani hidup, seolah-olah penyakit yang di deritanya hanya penyakit biasa, yang tidak membutuhkan penangan khusus. Bagi aku lebih baik Mama tidak tahu tentang penyakitnya, hingga tidak menjadi beban dalam hidupnya.

Aku mencari cara bagaimana Mama harus mau berobat, tanpa paksaan. karena memang aku liat di sekitar benjolan payudara Mama sudah agak berwarna kemerahan, khusus daerah putingnya sudah mengkerut, putingnya  sendiri sudah mulai masuk ke dalam dan ada mulai tumbuh di samping putting seperti bisul yang siap pecah.

Juli 2012 akhirnya Mama mau untuk berobat, lega rasanya mendengar Mama sudah siap, setelah aku beri pengertian, bahwa kalo tidak segera di tangani, akan berasa semakin sakit dan benjolan di samping akan pecah, nanti akan lebih sulit lagi penanganannya, Alhamdulillah Mama paham dan mengerti.

Awal Agustus 2012, Mama menjalani operasi pengangkatan payudara kanan, istilahnya mastektomi, pengangkatan jaringan payudara di RS Griya Puspa Persahabatan, saat itu sudah di vonis stadium 4, dan sudah ada metastasis ke paru. Hal yang selama ini di takuti Mama tidak terjadi, Alhamdulillah operasinya lancar. Satu bulan setelah operasi, di mulailah pengobatan selanjutnya yaitu kemoterapi. Untuk tahap pertama dokter memberikan Kemoterapi oral, yaitu dengan minum obat Xeloda yang di berikan tiap 2 minggu minum lalu satu minggu istirahat, Mama menjalaninya selama 6 siklus.

Setelah selesai tahapan selanjutnya Mama menjalani kemoterapi melalui infus, 6 siklus dilakukan tiap bulan. Alhamdulilah karena semangat Mama yang luar biasa semua tahapan-tahapan kemoterapi dilakukannya dengan baik

Tahapan kemoterapi selesai, selanjutnya dokter memberikan obat hormonal terapi paska kemoterapi. kemudian dilakukan pemeriksaan thorax kembali, Alhamdulillah hasilnya metastasis di paru sudah tidak ada.

Tapi beberapa bulan kemudian di follow up kembali rotgen thorax di curigai metastasis muncul kembali.

Dan pada akhirnya Mama kalah bertarung dengan kanker payudaranya, perjuangan melawan kanker setelah operasi hanya berlangsung kurang lebih 2 tahun, sebuah perjuangan yang luar biasa hebatnya, semangat, disiplin, kesabaran, ketabahan dan keikhlasan dijadikannya kekuatan dan  senjata dalam berjuang melawan kanker, walau pada akhirnya Mama harus menyerah. Untuk urusan hasil biarkan menjadi hak prerogatif Tuhan, Umur pun hanya Tuhan yang bisa menentukan kapan manusia akan kembali kepadaNya. Mama ku adalah seorang pejuang, pahlawan yang gugur di medan perang melawan penyakit kanker payudara, in syaa allah kembali padaNya dalam keadan syahid.

Dengan kejadian yang dialami Mama, sebagai pelajaran buat aku untuk selalu memperhatikan kesehatan tubuh. Di antaranya harus rutin melakukan sadari setiap bulan, melakukan pemeriksaan Usg tiap tahun, olahraga dan mengkonsumsi makanan sehat. Jika tubuh sudah memberikan sinyal gejala gejala penyakit, jangan diabai, segera periksakan ke dokter agar cepat terdeteksi hingga mempermudah usaha tindakan dan penyembuhannya. Save your breast, save your life…

#finishthefight #gopink #breastcancerawareness #thepinkribbon

Pos ini dipublikasikan di Catatan Harian, Kesehatan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ketika Kanker Menyapa Mamaku

  1. dewi Nielsen berkata:

    Salam buat mama ya mbak..saya 3 tahun yang lalu juga ada benjolan kecil di buah dada, dan langsung diangkat ama dokter…

  2. adiladety berkata:

    Kalo terasa ada benjolan, lebih cepat ditangani, hasilnya akan lebih baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s